Kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya...
Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya...
Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya...
Leher yang akan lebih sering melihat ke atas...
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja...
Hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya...
Serta mulut yang akan selalu berdo'a...

Kamis, 22 Maret 2012

Pertahanan Itu Akhirnya Runtuh...

  Terkuak perih yang mengiris ulu. Berjalan melawan arus, menantang matahari, tapi tak mengerti apa maksud dari itu semua...

  Udah hampir 3 tahun gue bertahan. Bertahan tanpa sebuah kepastian, hanya berharap dia mengerti. Tapi nyatanya dia hanya sekedar tau, bukan mengerti.
  
  Sebuah pekerjaan konyol. Rela melukai diri sendiri, menentang kata hati kecil. Diiringi linang air mata yang mewakili kepedihan yang terasa. Mungkin ini, yang dibilang orang, bertahan...
 
  Masih tetap bertahan, tapi tetap mengurangi intensitas perhatian. Nggak seperti dulu lagi...
 
  Senyum tetap mengembang. Menggambarkan keceriaan yang seolah selalu menghiasi hari-hari. Tapi tak ada yang saputan luka yang tersembunyi dibalik senyum itu...
 
  Tapi bertahan itu bukan hal yang mudah. Banyak sakit yang harus dirasain karena dihadapkan dengan kenyataan pahit. Tapi nggak tau kenapa, gue tetep mutusin buat tetep bertahan, menanti tanpa ada sebuah kepastian... Bertanya tanpa ada sebuah jawaban...
 
  Hingga hari ini. 

  Gue sakit, dan hebatnya, dia juga. Gue nggak tau apa hubungannya. Ya anggep aja itu intermezo, haha

  Tapi satu luka yang sangat pedih menguak lebar. Ya. Luka itu menguak hari ini. Hari dimana gue sakit, jadi bertambah sakit. Nggak hanya fisik, tapi juga hati......
 
  Kepedihan semakin terasa. Perlahan, tapi mampu menusuk perasaan. Membuat keraguan semakin menyeruak keluar...
 
  Bukan. Bukan dari perlakuannya. Dia nggak ngelakuin apapun ke gue. Hanya aja, sederet barisan tulisan mampu ngebuat gue tercenung. Rentetan kalimat dari, bisa dibilang, rival gue. Kalimat itu yang ngebuat kepala gue pening banget..

  Kamu jgn sampai mati. |knapa? |karna ntar gak ada yg nemenin aku. |udah,gitu doang.| enggak.lebih   dari itu .

  Gak usah nangis. |tpi kamu gk pernah ngrtiin aku. |iya.aku bkal brusaha ngertiin kamu.
  
  Dia dan rival gue mengatakan hal yang bahkan nggak pernah gue perhitungkan!!
 
  Siluet waktu berputar dihadapan, seolah datang untuk mengejek penyesalan yang mendadak hadir...
 
  Nyesek. Cuma itu perasaan gue.
 
  Gue sosok yang idealis, tapi untuk hal ini, gue harus realistis.

  Gue terlalu pengecut. Gue terlalu pengecut untuk nunjukin perasaan gue. Gue nggak pernah berani menun-jukkan sikap yang, sedikiiit saja, mengesankan gue punya 'rasa' sama dia. Gue ngumpet. Selama ini gue ngumpet di dalam kekalutan. Gue sembunyi dibalik senyum dan tawa gue. Tapi gue sendiri nggak tau kenapa! Gue nggak tau kenapa gue ternyata sepengecut ini!
 
  Tapi gue nggak terlalu pengecut buat mengakui suatu kenyataan yang terpampang di hadapan gue...

  Kenyataan pahit itu akhirnya benar-benar datang. Merusak segala sesuatu yang telah dipertahankan. Suara hati berteriak lantang, menolak apa yang telah digariskan. Kalau sudah begini, apa yang bisa di perbuat ?

  Gue kalah. Kalah telak.. Dia emang nggak jadian sama rival gue, tapi ucapan, perasaan yang pernah ada, tanpa sebuah hubungan yang jelas jauh lebih menyakitkan. Mereka seolah memberi isyarat kalo gue harus segera kibarin bendera putih...

  Kekalahan menyelimuti suasana yang begitu ironis. Suara isakan menjadi pengganti kata-kata yang tak bisa terucap. Ditemani bintang malam yang berpijar, inilah deskripsi dari sebuah... kerapuhan
  
  Bendera putih? Untuk apa?

  Berdamai! Berdamai dengan semua ketegaran gue. Berdamai dengan semua kesombongan gue. Berdamai dengan semua kemunafikkan gue, yang ternyata semuanya palsu! Semuanya hanya kebohongan yang teruntai untuk menipu mata semuanya. Gue selalu bisa tersenyum, selalu bisa tertawa, selalu bisa menggoda dia dengan rival gue, tapi itu hanya di hadapan temen-temen gue! Di dalem gue sama rapuhnya dengan kayu yang udah berusian ratusan abad. Gue nggak lebih dari besi yang sudah berkarat, tinggal menunggu waktunya untuk patah!

  Manipulasi mampu menjadi alibi, tapi hati tak pernah mau bersahabat dengannya. Hati memilih terus memperlihatkan kepedihan yang dirasakannya, daripada menutupinya...
  
  Gue bisa apa selain nerima ini semua? Berusaha tetap tersenyum, menerima pahitnya rasa yang tertambat di sini, di dalem sini. Berusaha tetap menerima, sepedih apapun konsekuensi yang harus gue terima. Memang pedih dan sulit, tapi seenggaknya gue berusaha buat menutup luka gue, agar tidak semakin terbuka lebar...

  Jembatan pertahanan itu akhirnya runtuh.. Luluh lantak dan hancur berantakan di dalam lubuk hati..

  Gue menyerah. Gue menyerah atas semua keangkuhan gue untuk bertahan. Gue menyerah atas semua tipuan ini. Pertahanan gue runtuh. Terlalu naif jika gue terus menanti yang sebenarnya yang menanti tidak akan pernah datang.. Dan sekarang, gue harus rela, untuk menyatakan kalo gue..... mundur!

Rabu, 21 Maret 2012

Cinta Itu Nggak Pernah Butuh Alasan...

Ketika ada yang tanya sama gue, apa alasan gue suka sama dia, gue cuma bisa bilang nggak tau. Dan itu serius. Gue, sampe sekarang, nggak pernah bisa nemuin alasan kenapa gue bisa suka sama dia. Atau mungkin, gue emang nggak pernah punya alasan buat suka sama dia.

  Dan seperti sekarang. Ketika ada orang yang tanya, kenapa gue bisa move dari dia, gue juga nggak bisa kasih alasan. Gue juga nggak pernah punya alasan buat gue move dari dia.
 
 
  Rasa itu datang... Tak menunggu siap atau tidak... Membuat semuanya tak bisa digambarkan dengan yang biasa disebut sebagai alasan...
 
 
  Aneh. Cuma itu yang bisa gue gambarin saat ini. Gue suka sama dia nggak pernah punya alasan, dan kenapa ketika gue mulai bisa move dari dia, gue juga nggak bisa kasih alasan. Kenapa? Ya karna emang alasan itu nggak pernah ada!

  Itu pemikiran awal gue.
 
  Sampe akhirnya, ada seseorang yang ngingetin gue tentang suatu hal. Kalo cinta itu nggak pernah butuh alasan. Kalo cinta butuh alasan, ketika alasan itu hilang, cinta juga bakal ikut hilang bersamanya

 
  Seperti debu. Cinta tidak akan menghilang sekuat apapun kita memaksanya. Dan mungkin, itulah aku..kepadanya..

 
  Gue ngerenungin kata-kata orang itu.

  Dan akhirnya gue nyadar. Gue sama sekali belum bisa move dari dia. Tanpa gue sadari, gue selalu ngelakuin hal yg ngingetin gue sama dia. Gue, sampai saat ini, nggak pernah bisa nemuin alasan kenapa gue suka sama dia.


  Karena kamu selalu bisa membuat aku merasa jadi satu-satunya dengan cara kamu yang sederhana


  Dengan caranya sendiri, dia mampu bikin gue tertarik sama dia. Menarik gue tanpa memberitahu apa yang bikin gue tertarik sama dia.

  Sama seperti gue suka dia. Gue juga nggak punya alasan buat gue move dari dia. Gue sama-sama nggak punya alasan kenapa gue bisa suka, dan kenapa gue nggak bisa move dari dia.
 
 
  Cinta datang karena telah terbiasa. Sesuatu yang menjadi kebiasaan, sulit untuk dilepas. Tidak mudah untuk dihindari. Mungkin, seperti itulah perasaanku....kepadamu....
 

  Dan mungkin ini, yang dimaksud seseorang itu dengan kalimatnya

  Kalo sebenernya gue bukan move dari dia, tapi gue mencoba lari dari dia. Menghindari untuk terus mempertahankan perasaan gue sama dia. Mencoba menangkas semua perasaan yang tercipta.
 
 
  Ini seperti akhir dari sebuah film sedih, penuh tangis, dan rasa sesak. Mungkin itu, yang orang bilang, patah hati
 

  Tapi nyatanya justru gue merasa sesak, saat dia dekat dengan orang lain. Seperti ada sesuatu yang luruh, hancur berkeping saat gue, dengan mata kepala gue sendiri, ngelihat dia dekat, bahkan sangat dekat dengan orang, yang nggak lain adalah rival gue sendiri!
 

  Mencintai seseorang itu mudah, bagian paling sulitnya, hanya ketika ia yang kamu cinta tidak tercipta untukmu
 

  Tapi gue nggak pernah mau maksain dia untuk ngebales apa yang gue rasain. Gue nggak mau jadi sosok yang egois. Sosok yang cuma mentingin dirinya sendiri, tanpa mikirin perasaan orang lain. Dan gue juga nggak mau jadi orang lain. Gue nggak mau ngerubah diri gue menjadi sosok yang dia pengenin, yang dia idamkan. Gue cuma mau jadi diri gue sendiri aja. Nggak lebih.

  Kalopun emang takdir nggak ngegarisin buat gue sama dia, gue bakal terima itu dengan legowo. Cukup gue ngelihat dia bahagia dari jauh, itu udah lebih dari cukup. Mungkin terlalu naif dan sakit memang. Tapi satu hal yang bisa gue sadari. Lewat dia, gue akhirnya paham, bahwa cinta... nggak pernah butuh alasan :)

Jumat, 09 Maret 2012

Apridit Hermapodit - Papaya Song

Lagi-lagi, hasil keisengan gue di blognya Bang Dika, gue menemukan sebuah video yang, entah kenapa, terdengar begitu absurd di telinga gue.
  Gue udah ga bisa banyak cakap lagi. Gue udah stres sama bahasa yang dipake mereka. Gue berharap elo pada ikutan stres, biar gue ada temennya.
  Selamat mengelinjang, jiwa muda!
 
  
PAPAYA SONG:
Papaya pa papaya papapaya pa

Tiap ku buka mata ku dipagi hari
Ada satu hal yang slalu kurisaukan
Apakah dalam jamban ada perubahan
Karena slama ini ku susah berak

Sampaiku temukan buah yang eksotis
Kesukaan para bidadari
Namanya pepaya kumakan 3 kilo
Sekarang tai ku besar-besar

Papaya pa papaya papaya pa


Sendirian malam minggu dirumah
Gak ada temen, gak punya pacar
Enggak sedih ku tinggal buka kulkas
Kuajak mandi bareng

Aku takkan risau, ku takkan galau
Ku punya pepaya disampingku
Ada problem dunia, ada godzilla
Tetap ku makan.. ( Makan apa ? )

Papaya pa papaya pa papaya pa

Aku suka pepaya
Pepaya suka aku
Kalo kamu ga suka sama pepayaa
Bukan temankuu

Ironi Persepakbolaan Indonesia

29 Februari 2012

Gue lihat perjuangan para Garuda Muda, mengeluarkan semua semangat muda mudi mereka untuk memberikan bukti bahwa Indonesia mampu berdiri tegak di kancah persepakbolaan Internasional, sekalipun harapan mereka harus berakhir di Pra Piala Dunia. Sekalipun hanya 'Pra'.
  Indonesia vs Bahrain. Bukan laga yang mudah, tapi juga bukan laga yang sulit, bila para pemain terbaik yang pernah dimiliki Indonesia di turunkan untuk mengibarkan sayap sang Garuda. Tapi kenyataannya? Indonesia mampu dicukur habis oleh Bahrain, dengan kekalahan memalukan yang amat sangat TELAK! 10-0! What the duck is that? Kalo udah gini siapa yang salah?
  Yang gue liat dari kacamata gue, kekalahan Indonesia bukan hanya kesalahan pemain, tapi juga pihak dalam alias internalnya alias para pengurusnya, juga agak nggak bener. Adanya kesenjangan dan jarak antara pemain ISL (Indonesia Super League) yang tidak di akui sebagai liga sepak bola nasional legal oleh PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) dengan IPL (Indonesia Primer League) sebuah liga baru, yang kemunculannya jauh sebagai junior dari ISL, tapi dalam tempo singkat mampu mendapat pengakuan sebagai SATU-SATU-NYA liga sepakbola nasional yang legal oleh PSSI! Sedangkan para pemain terbaik dan yang berpengalaman dalam jam terbang untuk membela Indonesia, mayoritas, berada di ISL! IPL? Bukan menghina, hanya mereka belum sebaik para pemuda ISL!
  Jujur gue agak bingung. Tujuan diadakannya liga nasional itu untuk mencari para pemain terbaik untuk mengembangkan keagungan sayap Sang Garuda di dunia Internasional, tapi kenapa justru yang terbaik malah dilarang main?? What the hell is that, hah?!
 






Tujuannya para atlit itu kan sama, sama-sama mem-bela nama baik Indonesia Raya di kancah Internasio-nal, tapi kenapa masih harus pilih pemain yang sebe-nernya belum pas buat diturunkan sekarang buat ngebela Indonesia atuh? -_-



  Pertandingan melawan Bahrain Rabu malam kemarin sudah menjadi salah satu bukti kuat, bahwa tim yang kemarin di turunkan masih memerlukan motivator dan topangan dari yang sudah berpengalaman~


  Kritislah Indonesia!!

Kamis, 01 Maret 2012

Turn It Around !

Kali ini gue akan menulis sesuatu. Ekheemm!

  Lebih tepatnya bukan akan menulis,tapi akan mengetik di keyboard gue, dan jari gue akan mengklik mouse yang kursornya diarahkan kepada tulisan “post”! Kok jadi ribet gini ya? Haha gue juga bingung, apa lagi lo yang baca.
 
  Kadang, gue bingung sama orang-orang yang berpikir terlalu (baca: sok) kritis sehingga menimbulkan suatu kemalasan.

  Contoh :
 
 “Kenapa sih pada sibuk sekolah? Wong SARJANA saja jadi PENGANGGURAN”

 
  Gue bingung sama satu kalimat ini. Kita coba analisis walaupun sebenarnya gue kurang bisa menganalisis, hehe

  Gue ngga tau sama orang yang berbicara kalimat ini. Coba kita putarkan kalimat ini. Bukan berarti lo balikkin monitor kompi lo ya, haha.

  Kalo orang ini memang seseorang yang berpikiran kritis yang BENAR, dia akan mikir,




“Seorang SARJANA saja jadi PENGANGGURAN. Apalagi yang TIDAK?” 

  Naah ini yang pengen gue post kali ini. Kadang kita tidak mengerti kalimat-kalimat sepele seperti ini, namun kalau kita analisis dengan benar, ada maksud terselubung dalam itu.
 
  Kritislah!