Ketika ada yang tanya sama gue, apa alasan gue suka sama dia, gue cuma bisa bilang nggak tau. Dan itu serius. Gue, sampe sekarang, nggak pernah bisa nemuin alasan kenapa gue bisa suka sama dia. Atau mungkin, gue emang nggak pernah punya alasan buat suka sama dia.
Dan seperti sekarang. Ketika ada orang yang tanya, kenapa gue bisa move dari dia, gue juga nggak bisa kasih alasan. Gue juga nggak pernah punya alasan buat gue move dari dia.
Rasa itu datang... Tak menunggu siap atau tidak... Membuat semuanya tak bisa digambarkan dengan yang biasa disebut sebagai alasan...
Aneh. Cuma itu yang bisa gue gambarin saat ini. Gue suka sama dia nggak pernah punya alasan, dan kenapa ketika gue mulai bisa move dari dia, gue juga nggak bisa kasih alasan. Kenapa? Ya karna emang alasan itu nggak pernah ada!
Itu pemikiran awal gue.
Sampe akhirnya, ada seseorang yang ngingetin gue tentang suatu hal. Kalo cinta itu nggak pernah butuh alasan. Kalo cinta butuh alasan, ketika alasan itu hilang, cinta juga bakal ikut hilang bersamanya
Seperti debu. Cinta tidak akan menghilang sekuat apapun kita memaksanya. Dan mungkin, itulah aku..kepadanya..
Gue ngerenungin kata-kata orang itu.
Dan akhirnya gue nyadar. Gue sama sekali belum bisa move dari dia. Tanpa gue sadari, gue selalu ngelakuin hal yg ngingetin gue sama dia. Gue, sampai saat ini, nggak pernah bisa nemuin alasan kenapa gue suka sama dia.
Karena kamu selalu bisa membuat aku merasa jadi satu-satunya dengan cara kamu yang sederhana
Dengan caranya sendiri, dia mampu bikin gue tertarik sama dia. Menarik gue tanpa memberitahu apa yang bikin gue tertarik sama dia.
Sama seperti gue suka dia. Gue juga nggak punya alasan buat gue move dari dia. Gue sama-sama nggak punya alasan kenapa gue bisa suka, dan kenapa gue nggak bisa move dari dia.
Cinta datang karena telah terbiasa. Sesuatu yang menjadi kebiasaan, sulit untuk dilepas. Tidak mudah untuk dihindari. Mungkin, seperti itulah perasaanku....kepadamu....
Dan mungkin ini, yang dimaksud seseorang itu dengan kalimatnya
Kalo sebenernya gue bukan move dari dia, tapi gue mencoba lari dari dia. Menghindari untuk terus mempertahankan perasaan gue sama dia. Mencoba menangkas semua perasaan yang tercipta.
Ini seperti akhir dari sebuah film sedih, penuh tangis, dan rasa sesak. Mungkin itu, yang orang bilang, patah hati
Tapi nyatanya justru gue merasa sesak, saat dia dekat dengan orang lain. Seperti ada sesuatu yang luruh, hancur berkeping saat gue, dengan mata kepala gue sendiri, ngelihat dia dekat, bahkan sangat dekat dengan orang, yang nggak lain adalah rival gue sendiri!
Mencintai seseorang itu mudah, bagian paling sulitnya, hanya ketika ia yang kamu cinta tidak tercipta untukmu
Tapi gue nggak pernah mau maksain dia untuk ngebales apa yang gue rasain. Gue nggak mau jadi sosok yang egois. Sosok yang cuma mentingin dirinya sendiri, tanpa mikirin perasaan orang lain. Dan gue juga nggak mau jadi orang lain. Gue nggak mau ngerubah diri gue menjadi sosok yang dia pengenin, yang dia idamkan. Gue cuma mau jadi diri gue sendiri aja. Nggak lebih.
Kalopun emang takdir nggak ngegarisin buat gue sama dia, gue bakal terima itu dengan legowo. Cukup gue ngelihat dia bahagia dari jauh, itu udah lebih dari cukup. Mungkin terlalu naif dan sakit memang. Tapi satu hal yang bisa gue sadari. Lewat dia, gue akhirnya paham, bahwa cinta... nggak pernah butuh alasan :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar